Ada sebuah pernyataan yang menggelitik pikiran Saya malam ini :
Memang banyak jalan dan cara menuju Roma. Seorang motivator pernah berkata;"terdapat dua tipe jalan menuju Roma; jalan lurus tanpa hambatan, jarak tempuh lebih cepat dan jalan penuh liku dengan jarak tempuh yang tentu saja lebih lama."
Masih menurut motivator tersebut; orang bijak pasti akan memilih jalur yang pertama, dimana ia tahu apa yang ia inginkan, ia fokus pada pencapaiannya, dan ia membutuhkan waktu yang singkat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bagaimana dengan Saya ?
Saya termasuk orang yang memilih jalur kedua; jalan berliku yang penuh dengan hambatan dan tantangan. Ini berlaku dalam hidup sehari-hari, pekerjaan, sampai kehidupan pribadi. Bukan berarti Saya tidak tahu tujuan hidup Saya, namun Saya merasa jalan penuh liku inilah yang membentuk Saya menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan jalan yang penuh liku ini, saya mempunyai kesempatan untuk melihat sekitar, menongok apa yang terjadi di sekitar saya, untuk berkaca. Ini membuat saya lebih dapat bersikap manusiawi dan bersyukur atas apa yang telah saya nikmati sampai saat ini.
Dengan jalan berliku, setiap tantangan yang saya hadapi membuat saya menjadi lebih kuat, membuat saya dapat belajar dari pengalaman dan membuatnya menjadi pelajaran yang berharga untuk hidup saya selanjutnya. Saya percaya, segala yang saya hadapi dalam perjalanan ini sudah diatur oleh Yang Di Atas. Ia tidak mungkin memberikan suatu perkara yang diluar kemampuan kita. Dia tahu yang terbaik untuk kita. Saya meyakini hal itu
Bukan berarti Saya tidak pernah merasa ditinggalkan dan terpuruk. Saya manusia, bukan robot. Saya punya hati, saya punya ego yang cukup tinggi, dan Saya ingin disayangi. Terkadang Saya bertanya dalam hati, "Mengapa ini harus terjadi pada Saya?" Tapi kembali lagi, disaat inilah Saya diuji, apakah Saya dapat keluar dari belenggu yang Saya ciptakan sendiri, dan hidup lebih baik, atau tetap membiarkan diri Saya terjun jauh lebih dalam lagi, yang semata-mata karena Saya tidak mau berusaha sedikit lebih keras untuk lepas dari belenggu pikiran sendiri. Berat, butuh waktu, tenaga dan pengorbanan. Namun, ketika saya berhasil keluar, rasa lega itu tidak dapat terbayarkan dengan apapun juga.
Banyak jalan menuju Roma. Jalan yang Saya tempuh kini adalah jalan hidup Saya. Saya masih berjuang, Saya masih terus melangkah dan belajar, kadang Saya salah langkah dan harus kembali berputar. Namun bukankah hidup itu selalu berputar? Sekencang apapun putaran hidup ini, Saya percay, Saya akan sampai ke Roma :)
"Banyak jalan menuju Roma."
Memang banyak jalan dan cara menuju Roma. Seorang motivator pernah berkata;"terdapat dua tipe jalan menuju Roma; jalan lurus tanpa hambatan, jarak tempuh lebih cepat dan jalan penuh liku dengan jarak tempuh yang tentu saja lebih lama."
Masih menurut motivator tersebut; orang bijak pasti akan memilih jalur yang pertama, dimana ia tahu apa yang ia inginkan, ia fokus pada pencapaiannya, dan ia membutuhkan waktu yang singkat untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Bagaimana dengan Saya ?
Saya termasuk orang yang memilih jalur kedua; jalan berliku yang penuh dengan hambatan dan tantangan. Ini berlaku dalam hidup sehari-hari, pekerjaan, sampai kehidupan pribadi. Bukan berarti Saya tidak tahu tujuan hidup Saya, namun Saya merasa jalan penuh liku inilah yang membentuk Saya menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan jalan yang penuh liku ini, saya mempunyai kesempatan untuk melihat sekitar, menongok apa yang terjadi di sekitar saya, untuk berkaca. Ini membuat saya lebih dapat bersikap manusiawi dan bersyukur atas apa yang telah saya nikmati sampai saat ini.
Dengan jalan berliku, setiap tantangan yang saya hadapi membuat saya menjadi lebih kuat, membuat saya dapat belajar dari pengalaman dan membuatnya menjadi pelajaran yang berharga untuk hidup saya selanjutnya. Saya percaya, segala yang saya hadapi dalam perjalanan ini sudah diatur oleh Yang Di Atas. Ia tidak mungkin memberikan suatu perkara yang diluar kemampuan kita. Dia tahu yang terbaik untuk kita. Saya meyakini hal itu
Bukan berarti Saya tidak pernah merasa ditinggalkan dan terpuruk. Saya manusia, bukan robot. Saya punya hati, saya punya ego yang cukup tinggi, dan Saya ingin disayangi. Terkadang Saya bertanya dalam hati, "Mengapa ini harus terjadi pada Saya?" Tapi kembali lagi, disaat inilah Saya diuji, apakah Saya dapat keluar dari belenggu yang Saya ciptakan sendiri, dan hidup lebih baik, atau tetap membiarkan diri Saya terjun jauh lebih dalam lagi, yang semata-mata karena Saya tidak mau berusaha sedikit lebih keras untuk lepas dari belenggu pikiran sendiri. Berat, butuh waktu, tenaga dan pengorbanan. Namun, ketika saya berhasil keluar, rasa lega itu tidak dapat terbayarkan dengan apapun juga.
Banyak jalan menuju Roma. Jalan yang Saya tempuh kini adalah jalan hidup Saya. Saya masih berjuang, Saya masih terus melangkah dan belajar, kadang Saya salah langkah dan harus kembali berputar. Namun bukankah hidup itu selalu berputar? Sekencang apapun putaran hidup ini, Saya percay, Saya akan sampai ke Roma :)
No comments:
Post a Comment